Sudahkah Anda daftarkan blog Anda ke Blog Directory?

:: Wadah thullabul-ilmiy (para penuntut ilmu) dalam menimba ilmu Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Salaful Ummah (para shahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in). Mendekatkan ummat kepada agamanya, yakni ketauhidan yang lurus hanya kepada Allah Subhanahuwata'ala semata, menjauhkan ummat dari perbuatan yang bisa merusak agamanya, yakni syirik, kurafat, tahyul, perdukunan, tatoyyur, bid'ah, dsb.

Senin, 26 Juli 2010

Ramadhan Tiba, Persiapkan Diri Menyambutnya

islam ramadhan puasa tarawih
Dalam memasuki bulan Ramadhan, marilah kita luruskan niat kita dalam menjalaninya nanti ikhlas karena Allah Subhanahuwata'ala semata. Bulan Ramadhan adalah bulan mulia dimana Allah azzawajalla mencurahkan berbagai nikmat kepada hamba-Nya. Allah azzawajalla memuliakan bulan Ramadhan dengan menurunkan Al-qur'an di bulan ini, perang Badar Kubra juga terjadi di bulan ini dan penakhlukan kota Makkah yang dikenal dengan Fathu Makkah juga di bulan ini.

Begitu juga amalan-amalan di bulan Ramadhan nanti. Sholat tarawih yang kita jalani nanti, Allah Subhanahuwata'ala hargai nilainya bukan dengan sebanyak raka'at yang kita kerjakan, akan tetapi Allah Subhanahuwata'ala menghargainya dengan nilai yang sama dengan bila kita sholat semalam suntuk.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai maka dicatat baginya seperti shalat semalam suntuk.”

Oleh sebab itu, marilah kita meriahkan masjid di bulan tersebut. Hal ini karena sholat tarawih dilakukan berjama'ah bersama imam di masjid-masjid, bukan sholat sendiri di rumah. Dan bagi kita yang dipercaya pemerintah menjadi imam, ringankanlah gerakan sholat kita. Jangan dipercepat hanya karena ingin sholat cepat selesai dan pulang ke rumah untuk melanjutkan bubur durian yang masih tersisa setengah, sewaktu buru-buru akan berangkat ke masjid tadi. Ketahuilah bahwa makmum yang sholat di belakang kita bukanlah orang muda semua, ada orang tua dan ada orang yang sedang menahan sakitnya. Ringankanlah gerakan sholat kita. Dan jangan pula diperberat dengan waktu yang lama, sehingga membuat sendi-sendi makmum yang tua renta gemetar menahan lamanya berdiri ataupun ruku'. Cukuplah terlepas kewajiban tuma'ninah sebagai salah satu rukun dalam sholat.

Kita bisa memanjangkan waktu raka'at sholat tarawih kita bila memang seluruh makmum kita ketahui tidak ada orang tua rentanya ataupun orang yang sedang sakit. Hal ini karena Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam sesekali pernah memanjangkan raka'atnya, baik waktu sujud maupun ruku' dalam waktu yang terbilang lama. Dan ini merupakan suatu sunnah yang bisa kita amalkan dengan syarat seperti tadi, tidak ada makmum yang akan berat melaksanakannya.

Dalam menghadapi datangnya bulan Ramadhan, kita juga dianjurkan mempersiapkan keluarga kita, anak-anak kita dan istri-istri kita. Bila ada anak kita yang telah baligh, tentu shaum di bulan Ramadhan sudah wajib baginya. Namun bagi anak-anak kita yang belum baligh, sudah saatnya kita memperkenalkan ibadah yang satu ini kepada mereka. Bangunkan mereka disaat kita akan sahur. Ajarkan mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang. Walaupun mata mereka masih "5 watt" alias setengah terbuka menahan kantuk, bimbinglah mereka dengan sabar. Jangan terlalu dipaksakan ataupun dimarahi. Bagaimanapun shaum belum jatuh hukumnya bagi mereka. Tugas kita hanya sekedar memperkenalkannya kepada mereka, agar mereka tahu dan terbiasa, oooh... begini toh sahur itu...

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ : وَذَكَرَ: الصَّبِي حَتَّى يَبْلُغَ

“Telah diangkat pena dari 3 golongan, (dan disebutkan diantaranya) anak kecil sampai ia baligh.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Lalu, bagaimana hukumnya bagi orang gila ataupun pikun atau semisal dengannya? Atau seorang ibu yang sedang menyusui? Maka tidak ada kewajiban shaum atasnya. Cukup bagi mereka dengan membayar fidyah, yakni memberi makan satu orang miskin setiap harinya selama bulan Ramadhan.

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

"Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib baginya membayar fidyah, yakni memberi makan seorang miskin." (Al-Baqarah 184)

Dan bagi orang sedang sakit dimana diharapkan masih ada kesembuhan padanya, maka ia bisa meng-khada' puasanya dan menggantinya bila telah sembuh di lain waktu. Begitu juga bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Mereka bisa meng-khada'-nya dan menggantinya sebanyak hari dimana mereka tidak berpuasa tersebut.

Khusus bagi orang yang sedang safar, dia bebas memilih apakah tetap berpuasa ataupun meng-khada'nya. Tidak boleh kita mencela orang yang sedang safar dan memilih untuk tidak berpuasa dengan niat meng-khada'-nya, karena Allah azzawajalla telah memberi keringanan bagi orang yang sedang safar di bulan Ramadhan. Tinggal dia menilai dirinya, bila terasa dia mampu untuk berpuasa dan tidak memudharatkan dirinya, tentu tidak mengapa dia tetap berpuasa. Namun bila safar membuat dirinya lelah dan lemah, tentu makhruh baginya untuk tetap berpuasa dan sebaiknya dia berbuka dan mengkhada'-nya.

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan safar, maka wajib baginya menggantinya di hari-hari yang lain.” (Al Baqarah: 184)

Di dalam "Ash Shahihain", salah seorang shahabat bernama Abu Darda’ radhiallahu'anhu meriwayatkan:

“Kami keluar bersama Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam di bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca yang sangat panas, sampai-sampai salah seorang di antara kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena menahan panas yang bersangatan. Tidak ada di antara kami yang berpuasa, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Abdullah bin Rawahah.” ***

-----------------------------------------------
by: www.IslamArticles.net

Read More...... [+/-]

Minggu, 25 April 2010

Menghilangkan Kebiasaan Onani

islam bahaya onani kesehatan
oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini al-Makassari
Tanya:
Assalamualaikum. Saya seorang remaja muslim yang terjebak kebiasaan buruk onani. Saya tahu hal tersebut adalah kesalahan dan saya ingin menghentikannya tapi saya belum mampu. Tolong berikan saya nasihat bagaimana cara menghentikannya. Dan tolong beritahu saya apa akibat buruk onani bagi kesehatan dan dampaknya pada hubugan suami istri seteleh menikah. Karena ada beberapa kalangan termasuk ahli kedokteran yang menganggap perbuatan onani adalah normal, padahal yang saya tahu apa yang dilarang Allah سبحانه وتعالى untuk dikerjakan manusia adalah  agar mereka menjauhinya, tidak mengerjakannya untuk kepentingan manusia itu sendiri.
Dari Fulan di bumi Allah.


Jawab:
Wa'alaikumussalam warohmatullah. Benar apa yang Anda katakan bahwa apa yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى atas hamba-hambanya adalah demi kepentingan dan maslahat manusia itu sendiri. Tidaklah seorang hamba mengerjakan sesuatu yang haram  kecuali pasti membahayakan dirinya sendiri. Diantara perbuatan haram yang terlarang adalah melakukan onani, apalagi sampai pada tahap jadi kebiasaan. Jadi, perbuatan onani ini bukanlah perbuatan normal yang biasa-biasa saja. Para ulama dan ahli kesehatan juga telah menyatakan adanya mudharat yang akan merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri ketika berkeluarga nanti.

Selain itu, onani merupakan perangai buruk yang rendah dan hina serta memalukan. Seorang muslim yang berakal dan berakhlak mulia akan menjaga dirinya semaksimal mungkin dari perbuatan yang hina ini. Barangsiapa terjebak pada kebiasaan buruk ini, maka kami nasihatkan kepadanya hal-hal berikut ini:

1. Hendaklah bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى dan memohon ampunan-Nya.

2. Menyabarkan diri agar tidak terjatuh kembali ke dalam kebiasaan buruk tersebut dan memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى agar mampu menghindarinya.

3. Segera menempuh solusi yang akan membebaskannya dari onani dengan cara menikah, jika sudah mampu dalam hal biaya untuk itu.

4. Jika belum mampu menikah, hendaklah memperbanyak puasa hingga syahwatnya benar-benar hilang dan luluh dengan puasa.

5. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ibadah dan kegiatan duniawiyah yang bermanfaat baginya untuk mengalihkan pikirannya dari onani.

6. Menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa membangkitkan syahwat, seperti melihat wajah dan sosok wanita secara langsung atau melalui gambar, bercampur-baur (ikhtilat) dengan wanita, dan yang semisalnya yang bisa membangkitkan syahwat.

Ini yang bisa kami nasihatkan, semoga Anda dan pembaca yang mengalami hal yang sama dengan ini, diberi hidayah dan taufiq oleh Allah سبحانه وتعالى untuk membenahi diri dan menempuh lembaran hidup baru di atas jalan Allah سبحانه وتعالى. seorang tidak boleh berputus asa dari kebaikan dan rahmat Allahسبحانه وتعالى . Kesempatan masih terbuka lebar dan tidak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung  badan. Rasulullah صلي الله عليه و سلم bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

"Bersemangatlah engkau untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan Allah سبحانه وتعالى, serta janganlah engkau berputus asa." (HR. Muslim dari Abu Hurairah ).

Read More...... [+/-]

Sabtu, 03 April 2010

Kaum Anshar dan Ghanimah (Rampasan Perang)

Kaum Anshar dan Ghanimah (Harta Rampasan Perang)
Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, beliau berkata: Ketika Rasulullah صلي الله عليه و سلم mulai membagi-bagikan harta rampasan perang kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah Arab, tidak ada sedikitpun dari harta rampasan perang tersebut yang dibagikan kepada kaum Anshar. Hal ini menimbulkan kesedihan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: "Rasulullah صلي الله عليه و سلم  sudah bertemu dengan kaumnya kembali."

Kemudian masuklah Sa'd bin 'Ubaidah رضي الله عنه menemui Rasulullah صلي الله عليه و سلم  lalu dia berkata: "Wahai Rasulullah صلي الله عليه و سلم , orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap Engkau, melihat apa yang Engkau lakukan dengan harta rampasan perang yang Engkau bagikan kepada kaum Engkau. Engkau bagikan kepada kabilah 'Arab dan tidak ada seorang pun Anshar yang menerima bagian."

Rasulullah صلي الله عليه و سلم bertanya" "Engaku sendiri di barisan mana, wahai Sa'd?"

Sa'd رضي الله عنه menjawab: "Saya hanyalah bagian dari mereka, dan tidaklah aku sendirian."

Kata Rasulullah صلي الله عليه و سلم : "Kumpulkanlah kaummu di kemah ini!"

Lalu berdatanganlah kaum Anshar. Di antara yang datang ada beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka dan mereka pun masuk. Datang pula sebagian yang lain, tapi beliau menolak mereka.

Setelah kaum Anshar berkumpul, Sa'd رضي الله عنه pun berkata: "Orang-orang Anshar telah berkumpul untukmu, ya Rasulullah...."

Kemudian Rasulullah صلي الله عليه و سلم pun menemui mereka, lalu beliau صلي الله عليه و سلم memuji Allah سبحانه وتعالى dan menyanjung-Nya dengan pujuan yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau صلي الله عليه و سلم bersabda: "Wahai sekaliah orang Anshar, apakah pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apakah pula perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati-hati kalian? Bukankah dulu aku datang kepada kalian yang dalam keadaan sesat, lalu Allah سبحانه وتعالى  memberi hidayah kepada kalian melalui aku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah سبحانه وتعالى kayakan kalian denganku? Bukankah kalian dahulu saling bermusuhan lalu Allah سبحانه وتعالى satukan hati kalian?"

Kaum Anshar pun menjawab: "Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan."

Rasulullah صلي الله عليه و سلم melanjutkan: "Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?"

"Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya segala kebaikan serta keutamaan," jawab orang-orang Anshar.

Rasulullah صلي الله عليه و سلم pun melanjutkan: "Demi Allah, kalau kalian mau, kalian dapat mengatakan dan pasti kalian benar dan dibenarkan. 'Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, Kamilah yang mencukupimu.'
Apakah kalian merasakan sedih dalam hati kalian, wahai kaum Anshar, dalam masalah harta duniawi yang sedikit, yang dengan itu aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam dan aku serahkan kalian pada keislaman kalian? Tidakkah kalian ridha, wahai orang-orang Anshar, meraka pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kalian pulang ke kampung halaman kalian dengan membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-oang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah lain yang dilalui kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar."

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi jenggot-jenggot mereka, sambil berseru: "Kami ridha bagian kami adalah Engkau, ya Rasulullah..." ***

Read More...... [+/-]

Senin, 22 Maret 2010

Siapakah Pembunuh 'Ali bin Abi Thalib? [1]

Wafatnya khalifah 'Utsman bin 'Affan bukan akhir dari musibah yang menimpa umat Islam. Rantai fitnah terus bersambung menimpa umat Islam sebagai ujian dari Allah عز وجل, sebagaimana Rasulullah صلي الله عليه و سلم kabarkan dalam sabdanya:

"Jika pedang telah dijatuhkan atas kaum muslimin, maka pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat." [1]

Berita ini terjadi seperti apa yang Rasul صلي الله عليه و سلم kabarkan. Ketika khalifah Ar-Rasyid, Amirul mukminin 'Utsman رضي الله عنه terbunuh, sejak saat itulah peperangan terus berlangsung di tengah umat Islam saat itu dan akan berlanjut hingga hari kiamat. La haula wala quwwata illa billah... [2]

Setelah wafatnya 'Utsman رضي الله عنه , menjadi besarlah dua firqah (kelompok) sesat yang paling bertolak belakang yakni Khawarij dan Rafidhah. Rafidhah sesat karena melampaui batas dalam mengagungkan 'Ali رضي الله عنه dan ahlul bait hingga mengatakan bahwa 'Ali رضي الله عنه adalah pencipta dan sesembahan. Sementara itu Khawarij, mereka sesat karena mengkafirkan sang khalifah, hingga darah beliau pun mereka halalkan.

Khawarij yang dulunya bermula dari pemikiran sebagaimana tampak dalam kisah Dzul Khuwaishirah [3], kini muncul sebagai sebuah firqah sesat yang memiliki akar dan kekuatan.

Sekilas Biografi dan Keutamaan Ali bin Abi Thalib.
Beliau adalah 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdil Mutthalib bin Hasyim Al-Quraisyi رضي الله عنه , putra paman Rasulullah صلي الله عليه و سلم . Sahabat yang temasuk sepuluh orang yang dijamin masuk jannah ini lahir sebelum kerasulan, tercatat sebagai sahabat pertama yang masuk Islam di masa kecilnya. [4]

Tersohor sebagai sosok pemberani, hingga Rasulullah صلي الله عليه و سلم menugaskannya tidur di rumah beliau saat hijrah ke Madinah, di tengah kepungan pemuda-pemuda Quraisy yang siap dengan pedang-pedang tajam yang terhunus.

Pada bulan Ramadhan, tahun ke 2 Hijriyah, beliau membawa panji perang Badr [5], sebuah peperangan dahsyat yang telah mengukir  kejayaan Islam. Janji Allah عز وجل pun beliau رضي الله عنه raih bersama seluruh ahlu Badr, berupa jaminan ampunan-Nya. Allah berfirman tentang Ahlu Badr (para peserta perang Badr):

"Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh telah pasti atas kalian Al-Jannah." [6]

Pada tahun 7 Hijriyah, Rasulullah صلي الله عليه و سلم kembali memberi kepercayaan kepada 'Ali رضي الله عنه untuk memegang bendera perang Khaibar. Dalam perang itu, 'Ali رضي الله عنه mendapat jaminan bahwa Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya  صلي الله عليه و سلم telah mencintainya. Malam hari sebelum perang, Rasul صلي الله عليه و سلم bersabda:

"Sungguh esok hari akan aku berikan bendera perang kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta Allah dan Rasul-Nya mencintainya, melalui tangannya, Allah bukakan kemenangan." [7]

'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه adalah sosok yang masyhur dalam kefasihan dan ketajaman bicara, hingga Rasulullah صلي الله عليه و سلم memercayainya untuk menyampaikan ayat-ayat dari awal surat Al-Bara'ah (At-Taubah) kepada orang-orang kafir Quraisy di musim haji tahun 9 H. [8]

'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyertai Rasulullah صلي الله عليه و سلم dalam semua peperangan, kecuali perang Tabuk. Beliau رضي الله عنه tidak mengikutinya karena Rasulullah صلي الله عليه و سلم memberi kepercayaan mengganti posisi Rasulullah صلي الله عليه و سلم di Madinah, suatu amanah yang besar tentunya. Sempat beliau bersedih karena tidak bisa menyertai Rasul صلي الله عليه و سلم dalam perang tersebut. Namun sekali lagi justru Rasul صلي الله عليه و سلم memberikan berita yang menyejukkan untuknya, seuntaian sabda yang menunjukkan keutamaan beliau رضي الله عنه .
Rasul صلي الله عليه و سلم berkata: "Engkau denganku seperti kedudukan Harun dan Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku." [9]

Cukuplah sebagian berita di atas sebagai hujjah yang menggambarkan keutamaan beliau رضي الله عنه di sisi Allah سبحانه وتعالى .

Profil Pembunuh Khalifah 'Ali bin Abi Thalib
Gambaran kerusakan fikrah (pemikiran) Khawarij tampak dalam pertempuran Nahrawan (39 H). Peperangan besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan firqah Khawarij tersebut menyisakan api fitnah dan bara kebencian di dada-dada para khawarij.

Dalam perang ini, 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menumpas habis sebagian besar Khawarij. Apa yang beliau lakukan sesuai dengan perintah Rasulullah صلي الله عليه و سلم di masa hidup beliau. 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata di hari Nahrawan:

"Aku diperintah (Rasulullah) untuk memerangi al-Mariqin (orang-orang yang keluar), dan mereka adalah Al-Mariqin." [10]

Sisa-sisa para Khawarij yang berhasil melarikan diri dalam perang Nahrawan lari dengan membawa kebencian kepada Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه , hingga kemudian mereka melakukan pertemuan rahasia merancang pembunuhan terhadap 'Ali رضي الله عنه.

Demikianlah sunnatullah atas hamba-Nya yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menetapkan cobaan sesuai kadar keimanan mereka. Allah سبحانه وتعالى  telah mencatat wafatnya 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه  dengan musibah yang mengangkat beliau kepada derajat tinggi dan mulia di sisi-Nya.

Kabar Dari Rasulullah صلي الله عليه و سلم dan Rencana Pembunuhan 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
Jauh-jauh hari, Rasulullah صلي الله عليه و سلم telah mengabarkan kepada 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه  tentang musibah yang akan menimpanya. Beliau صلي الله عليه و سلم bersabda:

"Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan manusia yang paling celaka dari umat ini adalah orang yang  membunuhmu, wahai Ali," seraya Rasulullah menunjuk kening 'Ali, letak anggota tubuh 'Ali رضي الله عنه yang akan terkena tebasan pedang pembunuhnya nanti.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Sa'd dalam "Ath-Thabaqatul Kubra" (3/35) dengan sanad mursal [11], akan tetapi memiliki syawahid (penguat-penguat) dari hadits lain. (Lihat pembahasan hadits ini dalam Ash-Shahihah 3/78 no. 1088).

Hadits di atas adalah kabar akan wafatnya 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dalam keadaan syahid, sekaligus sebagai hukum kesesatan bagi mereka yang membunuh beliau. (bersambung ke bagian 2)

--------------------------------------------
Footnotes:
[1] HR Abu Dawud no. 4252 dn Ibnu Majah no. 3952 dan dishahihkan Al-Albani dalam "Shahih Al-Jami'" no. 1773.

[2] I'anatul Mustafid (1/337) karya Asy Syaikh Shalih bin Fauzan.

[3] Kisah Dzul Khuwashirah dapat dilihat dalam "Shahih Al-Bukhari" no. 3610.

[4] Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang usia beliau saat masuk Islam, dikatakan ketika lima tahun, delapan tahun atau sepuluh tahun.

[5] "Al-Mustadrak" (3/111). Al Hakim berkata: " Hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhain (Bukhari-Muslim)." Disepekati oleh Adz-Dzahabi dalam "At-Talkhis".

[6] Al-Bukhari dalam "Al-Adabul Mufrad" no. 438, dishahihkan Al-Albani.

[7] Muttafaqun 'alaihi dari hadits Sahl bin Sa'd رضي الله عنه

[8] Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam "Al-Musnad" (1/156 dan 2/32), dishahihkan Asy-Syaikh Ahmad Syakir.

[9] "Shahih Muslim", kitab "Fadhail Ash-Shahabah" no. 2404.

[10] Shahih lighairihi, lihat "Fi Zhilalil Jannah" hadits no. 907 dari 'Alqamah.

[11] Terputus sanadnya antara tabi'in dan Rasulullah صلي الله عليه و سلم .

Read More...... [+/-]

Siapakah Pembunuh 'Ali bin Abi Thalib? [2]

Jika Kesesatan Telah Masuk Ke Relung Hati
Kesesatan telah melingkupi hati-hati para Khawarij hingga timbangan kebenaran pun terbalik. Menilai manusia paling mulia di muka bumi saat itu sebagai orang yang pantas ditumpahkan darahnya.

Adalah tiga orang Khawarij yakni Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, Al-Burak bin Abdillah At-Tamimi dan 'Amr bin Bukair at-Tamimi, mereka  berkumpul di Makkah membuat kesepatakan bersama dan bertekad bulat untuk membunuh  tiga shahabat mulia, 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه , Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, dan 'Amr bin Al-Ash رضي الله عنه.

Demikianlah ketika hati telah mengeras dan hidayah telah jauh dari seseeorang. Tidaklah mereka renungkan kemuliaan sahabat Rasulullah صلي الله عليه و سلم ? Tidak sadarkah mereka bahwa Rasulullah صلي الله عليه و سلم telah menjamin jannah bagi 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ? Kalau memang 'Ali kafir sebagaimana yang mereka tuduh, mengapa Allah عز وجل memberikan jaminan jannah pada beliau رضي الله عنه ? Apakah Allah عز وجل tidak tahu?

"Katakanlah: 'Apakah kami yang lebih mengetahui ataukah Allah?" (Al-Baqarah: 140)

Makar busuk itu mereka mulai. Segala jalan mereka tempuh untuk menyudahi orang-orang mulia yang telah Allah عز وجل ridhai dan cintai.

Dalam pertemuan rahasia tersebut, Abdurahman bin Muljam berkata: "Serahkan  pembunuhan 'Ali kepadaku."

Al-Buraq berkata," Serahkan Mu'awiyah kepadaku."

Lalu 'Amr bin Bukair berkata: Aku akan bunuh 'Amr ibnul 'Ash untuk kalian."

Demikian pembicaraan mereka di Makkah, kota Al-Haram. Kekejian telah mereka sepakati, tekad bulat telah mereka tetapkan, dan semua berjanji untuk tidak saling berkhianat dalam menuju sahabat-sahabat yang akan dibunuh hingga berhasil membunuhnya, atau harus terbunuh dalam menunaikan makar ini.

Pembaca rahimakumullah. Pembunuhan berencana itu apakah mereka anggap sebagai dosa? Ternyata tidak. Justru pembunuhan itu mereka yakini sebagai ibadah, jihad dan tawarrub kepada Allah. Maha suci Allah! Kemanakah akal-akal mereka? Dimana hati mereka? Tidakkah mereka membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang telah mereka hafal dalam dada mereka tentang keutamaan para sahabat? Tidakkah mereka cermati sabda Rasulullah صلي الله عليه و سلم dan wasiat beliau?

Namun hati telah terkunci, akal telah diliputi kesesatan. Pergilah mereka bertiga melangkahkan kaki menuju negeri kediaman tiga sahabat tersebut untuk sebuah tekad, pembunuhan orang-orang terbaik di muka bumi!

Sementara kita tinggalkan kisah Al-Burak dan 'Amr bin Bukair.... Kita ikuti perjalanan Ibnu Muljam al-Muradi.

Ibnu Muljam menginjakkan kakinya di Kufah. Dia menampakkan kebaikan dan ibadah serta menyembunyikan rencana jahatnya untuk membunuh Amirul Mukminin, 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه .

Dengan sembunyi-sembunyi, dia temui kawan-kawan Khawarijnya. Dalam waktu yang cukup lama di Kufah, dia matangkan rencana, dia siapkan pedang, dia rendam dalam racun untuk menegakkan "jihad" ala nafsunya dalam membunuh Amirul Mukminin. Demikian setan membisikkan kesesatan di relung hatinya.

Detik-Detik Wafatnya 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه .
Malam Jum'at, 17 Ramdahan [12] adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh 'Ali رضي الله عنه . Keluarlah orang yang paling celaka ini untuk mewujudkan kebinasaannya.

Di tengah keheningan akhir malam, dia dapati Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berjalan.

Dengan penuh ketawadhu'an kepada Allah dan penuh kecintaan pada Rabbul 'Alamin, 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه keluar menuju shalat shubuh, untuk berdiri di hadapan Allah. Wajah bersinar dan hati yang hidup tampak dari sosok manusia mulia menantu Rasulullah صلي الله عليه و سلم ini, putra paman Rasulullah صلي الله عليه و سلم . Beliau berjalan menuju saat-saat yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan padanya.

Dengan tiba-tiba, Ibnu Muljam menebaskan  pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, tepat mengenai kening yang pernah diisyaratkan Rasulullah صلي الله عليه و سلم dengan telunjuk beliau yang mulia. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...!

Pedang beracun telah mengenai kening 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه . Bukan sekadar goresan, namun luka yang demikian dalam hingga mencapai ubun-ubunnya - semoga Allah سبحانه وتعالى meridhai-nya. Kening yang senantiasa bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Kening yang dipandang Rasulullah صلي الله عليه و سلم dengan penuh cinta dan kasih sayang, kening yang telah penuh dengan debu jihad bersama Rasul صلي الله عليه و سلم , kening yang telah dijamin selamat dari api neraka, kini disambar pedang Ibnu Muljam.

Darah pun bersimbah.... Awan kelabu meliputi Kufah, menorehkan kepedihan dalam catatan sejarah Islam.

Allah سبحانه وتعالى tetapkan syahadah bagi beliah dan Allah سبحانه وتعالى tetapkan kecelakaan bagi Ibnu Muljam Al-khariji, sebagaimana sabda Rasulullah صلي الله عليه و سلم :
"Dan manusia yang paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai Ali!"

Ketika pedang mengenai 'Ali رضي الله عنه , beliau berseru:  "Jangan biarkan orang ini lepas!" Orang-orang yang mendengar seruan Ali bergegas menangkap Ibnu Muljam. Saat itu datanglah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Ummu Kultsum berkata: "Wahai musuh Allah, engkau telah membunuh Amirul Mukminin...!"

Ibnu Muljam menjawab: "Dia hanya sekadar bapakmu." (bukan Amirul Mukminin, pen.).

kata Ummu Kultsum: "Demi Allah, aku benar-benar berharap semoga Amirul Mukminin tidak apa-apa." Tetes tetes air mata cinta dan kesedihan pun mengalir membasahi pipi Ummu Kultsum, putri 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Ya, tetes air mata rahmah....

Dengan ketus Ibnu Muljam berkata: "Kenapa kau menangis? Demi Allah aku telah rendam pedangku ini dalam racun selama sebulan, sungguh tidak mungkin dia akan hidup setelah aku mati, aku pasti berhasil membunuhnya!"

Malam Ahad, Sebelas hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H, wafatlah Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Beliau dimandikan kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu Rasulullah صلي الله عليه و سلم  serta Abdullah bin Ja'far (keponakannya), dan dikafani dengan tiga lembar kain tanpa memakai gamis, sebagaimana Rasulullah صلي الله عليه و سلم dikafani.

'Ali رضي الله عنه dibunuh dalam keadaan menuju shalat shubuh dan dalam menggajak manusia untuk shalat. Meninggal setelah 4 tahun 8 bulan 22 hari masa kekhalifahan, di umur beliau yang ke-63. hasbunallah wa ni'mal wakil.

--------------------------------------------
Footnotes:
[12] Demikian Ibnu Sa'd menyebutkan dalam "Ath-Thabaqat" pada juz ketiga.
Faedah: Ibnu Hajar dalam "At-Tahdzib pada biografi 'Ali رضي الله عنه menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai tanggal terjadinya pembunuhan. Ibnu Hajar berkata: "Dia (Ibnu Muljam) membunuh 'Ali pada malam Jum'at 13 hari berlalu, atau dikatakan 13 hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H. Dikatakan pula awal malam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan."

[13] "Ath-Thabaqatul Kubra" (3/33), dinukil Ibnu Jauzi dalam "Talbis Iblis".

Read More...... [+/-]

Minggu, 14 Maret 2010

Pemutarbalikan Sejarah Islam [4]

4. Penilaian Buruk Terhadapa Sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه
Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه adalah sahabat Rasul صلي الله عليه و سلم yang mulia. Ketika Rasulullah صلي الله عليه و سلم menunaikan amratul qadha' ( pada tahun ke 7 Hijriyah), sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  masuk Islam secara sembunyi-sembunyi (tanpa sepengetahuan kaum Quraysy). Beliau baru menampakkan ke-Islaman saat penakhlukkan kota Makkah (Fathu Makkah) pada tahun 8 hijriyah. Pada saat itu pula kedua orang tua beliau radhiallahu'anhuma (Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti 'Utbah) dan juga saudara lelaki beliau (Yazid bin Abi Sufyan رضي الله عنه ) masuk Islam. Semenjak itu posisi Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  tergolong dekat dengan Rasulullah صلي الله عليه و سلم. Di samping sebagai adik ipar, beliau juga sebagai sekretaris pribadi Rasulullah صلي الله عليه و سلم.

Di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه, beliau diangkat sebagai wakil panglima perang Islam untuk pasukan yang dikirim ke Negeri Syam dengan misi penakhlukan (ekspansi). Di masa Kahlifah 'Umar bin Khatthab رضي الله عنه, beliau diangkat sebagai Gubernur Damaskus dan Yordania menggantikan sang kakak Yazid bin Abi Sufyan رضي الله عنه yang meninggal dunia. Di masa Khalifah 'Utsman bin 'Affan رضي الله عنه, ketika Umair bin Sa'ad Al-Anshari (Gubernur Himsh dan Qansirin) sakit dan minta dipulangkan ke tengah-tengah keluarganya, berikutnya Abdurrahman bin Alqamah (Gubernur Palestina) meninggal dunia, diangkatlah sahabat Mu'awiyah رضي الله عنه yang sebagai gubernur tunggal Negeri Syam. Sejarah mencatat, tergabungnya semua wilayah negeri Syam di bawah kepemimpinan beliau, terjadi pada dua tahun pertama dari kekhalifahan 'Utsman bin 'Affan.

Para pembaca yang mulia, mungkinkah Rasulullah صلي الله عليه و سلم, Khalifah Abu Bakr Ash-shiddiq, Khalifah 'Umar bin Khatthab dan Khalifah 'Utsman bin 'Affan radhiallhu'anhuma memberikan kedudukan kepada sembarang orang atau bahkan orang yang jahat? Tentunya akal sehat mengatakan, tak mungkin. Sehingga, tidaklah mereka memberikan satu kedudukan kepada sahabat yang mulia Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  melainkan beliau adalah ahlinya yang terpercaya, baik dalam hal kepemimpinan maupun ke dalaman ilmu Islam-nya.

Sahabat Abdullah bin Amr bin  Al-Ash رضي الله عنه dan juga sahabat Abdullah bin 'Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه mengatakan: "Aku tidak melihat seorang pun (setelah Rasulullah صلي الله عليه و سلم) yang lebih memiliki jiwa kepemimpinan daripada  Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه. ' Berkata Jabalah bin Suhaim: 'Bagaimana dengan 'Umar bin Al-Khattab?' Abdullah bin Amr bin Al-Ash رضي الله عنه berkata: ' Umar bin Al-Khattab lebih mulia dari Mu'awiyah, akan tetapi Mu'awiyah lebih memiliki jika kepemimpinan'." sahabat Abdullah bin Al-Abbas رضي الله عنه mengatakan: "Aku tidak melihat seorang pun yang melebihi Mu'awiyah dalam hal kepemimpinan. Beliau juga mengatakan: "Sungguh Mu'awiyah adalah seorang yang mendalam ilmu Islam-nya (faqih)."

Terbukti ketika Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyerahkan tampuk kepemimpinan umat kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, seluruh elemen umat Islam yang sebelumnya (selama bertahun-tahun) terpecah-belah pun dapat segera disatukan di bawah kepemimpinan beliau, hingga tahun itu dikenang sebagai tahun persatuan ('amul jama'ah). Sejarah Islam pun mencatat, selama dua puluh tahun  Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه menjadi Gubernur Syam, dan dua puluh tahun berikutnya menjadi khalifah umat Islam (hingga meninggal dunia), tak pernah ada  kendala berarti dalam memimpin umat Islam. Semua itu beliau jalani dalam keadaan dekat dengan rakyat dan rakyat pun amat mencintainya. Lebih dari itu, empat puluh tahun masa kempimpinan yang penuh rahmat tersebut beliau jalani di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan kekaisaran Romawi, musuh terkuat umat Islam. Setiap saat harus bersiaga tempur. Manakala terjadi pertempuran, tak jarang beliau رضي الله عنه sendiri yang memimpin langsung pertempuran. Perjalanan penuh sejarah yang tak bisa dipisahkan dari barakah do'a Rasulullah صلي الله عليه و سلم : "Ya Allah, jadikanlah Mu'awiyah seorang pemberi petunjuk yang senantiasa ditunjuki. Ya Allah, tunjukilah (manusia) dengan perantaranya."[6]

Namun perjalanan sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه yang penuh sejarah tersebut dikotori oleh tangan orang-orang yang tak tahu diri. Menilai dengan sesuatu yang tak bernilai, berkata tanpa berkaca, serta berbicara tanpa berlandaskan iman dan norma. Hadits-hadits lemah dan palsu sebagai senjatanya, kitab-kitab lemah dan palsu sebagai referensinya, dan para pendusta sebagai narasumbernya. Hingga berbaliklah sejarah Islam dari faktanya.

Para ulama Islam tak tinggal diam. Hadits-hadits palsu seputar sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه disingkap oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitab beliau "Al-Maudhu'at". Sedangkan berbagai tuduhan keji seputar sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه telah dibantah dan didudukkan secara obyektif dan proporsional oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah di beberapa tempat dalam kitab beliau "Minhajus Sunnah", Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi rahimahullah dalam kitab beliau "Al-'Awashim minal Qawashim fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba'da Wafatin Nabi" [7], Al Faqih Ahmad bin Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam kitab beliau "Tathhirul Jinan Wal Lisan 'ainil Khuthur wat Tafawwuh Bitsalbi Sayyidina Mu'awiyah bin Abi Sufyan", dan para ulama lainnya rahimahumullah.

Para pembaca yang mulia, demikianlah sekelumit pembahasan tentang pemutarbalikkan sejarah Islam dan penempatan yang tidak pada tempatnya, berikut beberapa contoh kasusnya. Semoga dapat menyibak berbagai kabut hitam  yang menyelimuti cakrawala sejarah Islam dan mengikis berbagai keyakinan batil yang merusak aqidah umat Islam (akibat pemutarbalikan sejarah Islam tersebut.).
Wallahul Muqaffiq.***

--------------------------------------------
Footnotes:
[6] Untuk mengetahui biografi sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  secara lebih rinci, silahkan merujuk kitab "Usdul Ghabah" dan "Al-Kamil fit Tarikh" karya al-Imam Ibnul Atsir, "Al-Bidayah wan Nihayah" karya Al-Imam Ibnu Katsir, "Al-'awashim minal Qawashim fit Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba'da Wafatin Nabi" karya Abu Bakr Ibnul Arabi beserta catatan kaki Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-khatib terhadapnya, "Minhajus Sunnah" karya Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, "Tathhirul Jinan Wallisan 'Anil Khuttur Wattafawwuh Bitsalbi sayyidina Mu'awiyah bin Abi Sufyan" karya Al-Faqih Ahmad bin Hajar Al Haitami, Mukadimah kitab "Matha'in Sayyid Qutb fii Asshabi Rasulillah" (bantahan Asy-Syaikh Mahmud Syakir terhadap Sayyid Qutb), dll.

[7] Tak ketinggalan pula Asy-syaikh Muhibbuddin Al-khattib dalam catatan kakinya terhadap kitab "Al-'Awashim Minal Qawashim fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba'da Wafatin Nabi".

Read More...... [+/-]

 

Copyright © 2011 by: www.IslamArticles.net

Proudly Powered by: Blogger
Designed by Abu Mubarok Boy