Baca Do'a Jima' Ini...!! Maka Setan Tidak Akan Menggaggu Anak Yang Dilahirkan Dari Hasil Hubungan Tersebut Selamanya

Membaca do'a sebelum jima' atau do'a sebelum bersetubuh adalah sunnah



Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyari'atkan Allah dalam agama ini. Dengan terjadinya pernihakan, selain memperoleh keturunan, seorang laki-laki dan wanita yang sudah sah menjadi suami istri juga akan memperoleh apa yang dijanjikan Alloh terhadap pernikahan mereka tersebut, yakni sebuah ketentraman, cinta dan kasih sayang. Hal ini difirmankan Alloh dalam Al-Qur'an di surat Ar-Ruum ayat 21 yang berbunyi:


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا

 وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ 

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. 

(QS.Ar-Ruum:21)


# Apakah sepasang suami istri yang menikah memperoleh pahala juga?


Tentu, bila sepasang suami istri yang menikah dengan niat ikhlas karena Alloh demi menjaga kesucian diri-diri mereka, maka Allah akan memberikan pahala dan reward kepada mereka berdua berupa pertolongan-Nya dimana tidak ada pertolongan yang lebih besar dari makhluk manapun dibandingkan pertolongan Alloh subhanahuwataala. Sebagaimana hadits Rosululloh ﷺ berikut ini:


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,


عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال 

"ثلاثة كلهم حق على الله - عز وجل: عونه المجاهد في سبيل الله ، والناكح الذي يريد العفاف ، والمكاتب الذي يريد الأداء

"Ada tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah 'azza wajalla: yaitu orang yang berjihad di jalan Alloh, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, dan budak muqatab (yang memiliki perjanjian kebebasan) yang berniat ingin menebusnya."

(HR. An-Nasa’i, no. 3120; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).


Dari hadits ini jelas menerangkan bahwa Allah azzawajalla akan memberi pertolongan kepada siapa saja yang menikah dengan niat ikhlas demi menjaga kesucian diri-diri mereka, sehingga terbebas dari perbuatan zina yang tercela yang diharamkan Alloh ta'ala. 


Ikhwahfillah pembaca Islam Articles.net rahimahukhumulloh,

Suatu pernikahan yang terjadi antara seorang pria dan wanita yang sebelumnya tidak saling kenal-mengenal, dan setelah menikah menjadi dekat bahkan semakin dekat, lambat laun pasti Alloh akan menumbuhkan rasa saling cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua. Dan muara dari rasa cinta dan kasih sayang itu adalah kehalalan yang diberikan Alloh pada mereka yang dulunya diharamkan. Apa itu? yakni kehalalan melakukan jima' atau hubungan suami istri, sebagaimana yang diterangkan dalam salah satu hadits dimana Rosululloh ﷺ bersabda:


قال صلى الله عليه وسلم: ((فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله، واستحللتم فروجهن بكلمة الله، ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشَكُم أحداً تكرهونه، فإن فعلن ذلك فاضربوهن ضرباً غير مبرح، ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف))

رواه مسلم 1218


"Bertakwalah kalian kepada Alloh terhadap istri-istri kalian; karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah dari Alloh, dan kalian telah menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan Kalimat Alloh. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh memasukkan seseorang ke dalam tempat tidur kalian, orang yang kalian benci. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan (tidak berbekas). Hak mereka atas kalian adalah agar kalian memberi rezeki dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik." 

(HR. Muslim no.1218)


Islam adalah agama kaffah yang sudah sempurna. Seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ummatnya sudah beliau ﷺ bahas dan jelaskan dengan rinci, dari ujung rambut sampai ujung kaki, sehingga umat Islam tidak bingung dan punya panduan dalam menjalaninya, termasuk dalam urusan yang terkesan tabu untuk dibicarakan ini.  



# Selain ingin mendapatkan kepuasan batin yang sudah pasti tentunya, apa sih manfaat lain dari jima' yang dilakukan sepasang suami istri itu?


Baik, Berbicara mengenai manfaat dan juga tujuan dari jima' itu sendiri, Imam Ibnu Qoyyim rahimahulloh berkata: 


وَأَمَّا الْجِمَاعُ وَالْبَاهُ، فَكَانَ هَدْيُهُ فِيهِ أَكْمَلَ هَدْيٍ، يَحْفَظُ بِهِ الصِّحَّةَ، وَتَتِمُّ بِهِ اللَّذَّةُ وَسُرُورُ النَّفْسِ، وَيَحْصُلُ بِهِ مَقَاصِدُهُ الَّتِي وُضِعَ لِأَجْلِهَا، فَإِنَّ الْجِمَاعَ وُضِعَ فِي الْأَصْلِ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ هِيَ مَقَاصِدُهُ الْأَصْلِيَّةُ:


Adapun jima’ atau hubungan suami istri, sungguh petunjuk yang paling sempurna dalam permasalahan ini adalah petunjuk beliau ﷺ, dimana dengan jima’ maka kesehatan akan terjaga, kelezatan dan keceriaan jiwa akan sempurna, dan akan tercapai semua maksud yang telah diletakkan karenanya. Manfaat dan tujuan jima' atau hubungan suami istri pada dasarnya dikelompokkan dalam tiga perkara, yaitu:


أَحَدُهَا: حِفْظُ النَّسْلِ، وَدَوَامُ النَّوْعِ إِلَى أَنْ تَتَكَامَلَ الْعُدَّةُ الَّتِي قَدَّرَ اللَّهُ بُرُوزَهَا إِلَى هَذَا الْعَالَمِ.

Pertama: 👉 Menjaga Keturunan, melestarikan makhluk dari jenis manusia sampai sempurnanya jumlah/bilangan yang telah ditentukan oleh Allah ta’ala kemunculannya di alam semesta ini.


الثَّانِي: إِخْرَاجُ الْمَاءِ الَّذِي يَضُرُّ احْتِبَاسُهُ وَاحْتِقَانُهُ بِجُمْلَةِ الْبَدَنِ.


Kedua: 👉 Mengeluarkan Spe*ma atau air mani, yang jika ditahan dan tidak dikeluarkan akan membawa kemudharatan bagi tubuh.


الثَّالِثُ: قَضَاءُ الْوَطَرِ، وَنَيْلُ اللَّذَّةِ، وَالتَّمَتُّعُ بِالنِّعْمَةِ، وَهَذِهِ وَحْدَهَا هِيَ الْفَائِدَةُ الَّتِي فِي الْجَنَّةِ، إِذْ لَا تَنَاسُلَ هُنَاكَ، وَلَا احْتِقَانَ يَسْتَفْرِغُهُ الْإِنْزَالُ.   


Ketiga: 👉 Menyalurkan Nafsu Syahwat, dan mendapatkan kelezatan serta bersenang-senang dengan kenikmatan tersebut. Dan ini adalah satu-satunya faedah jima' yang akan dijumpai di dalam surga nanti, dimana disana tidak ada kehamilan, dan tidak akan dijumpai terhentinya hubungan suami istri karena telah keluarnya sperma. (Zaadul Ma'ad, Ibnu Qoyyim 1/187)



# Lalu, apakah ada do'a sebelum melakukan jima' ? Dan apa manfaat dari membaca doa sebelum jima' itu?


Tentu ada, dan malah sangat dianjurkan bagi sepasang suami istri yang hendak melakukan jima'. Do'anya adalah sebagai berikut, jangan lupa dihapal ya....


 بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

 "Bismillah, Allohumma jannib naassyaithoona wa jannibissyaithoona maa rozaqtanaa"


“Dengan nama Allâh, ya Allâh jauhkanlah kami dari (gangguan) syaithon dan jauhkanlah syaithon dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami (yakni anak)”

📗HR. Abu Dawud no. 1884, Kitabun Nikah, Bab fi Jami’ An-Nikah, Al-Bukhâri no. 6388 dan Muslim no. 1434 serta dishohihkan oleh Al-Albani rahimahulloh).


Hadits lengkapnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas rhadiyallohu'anhu


 حدثنا محمد بن عيسى ، حدثنا جرير ، عن منصور ، عن سالم بن أبي الجعد ، عن كريب ، عن ابن عباس ، قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : لو أن أحدكم إذا أراد أن يأتي أهله ، قال : بسم الله ، اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا ، ثم قدر أن يكون بينهما ولد في ذلك لم يضره شيطان أبدا * . ( سنن أبي داوود - 1884 )

  صحيح   (الألباني) :حكم


Artinya:

Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin 'Isa, dari Jarir dari Mansyur, dari Salim bin Abi Ja'ad, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, ia berkata, telah bersabda Nabi Shalallohu'alaihi wasallam, "Barang siapa yang hendak bersetubuh dengan istrinya, maka ucapkanlah: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

(Dengan nama Allâh, ya Allâh jauhkanlah kami dari (gangguan) syaithon dan jauhkanlah syaithon dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami (yakni anak)).

Maka jika ditardirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim mereka berdua tersebut, maka syaithan tidak akan bisa mencelakai anak tersebut selamanya.”

📗HR. Abu Dawud no. 1884, Kitabun Nikah, Bab fi Jami’ An-Nikah, Al-Bukhâri no. 6388 dan Muslim no. 1434 serta dishohihkan oleh Al-Albani rahimahulloh).


Hadits ini dengan jelas menerangkan kepada kita betapa pentingnya melafathkan do'a sebelum melakukan jima'. Hal ini karena syaithon tidak akan pernah lelah untuk selalu menganggu anak Adam dalam segala hal, termasuk dalam urusan hubungan intim ini. Mengapa? karena hubungan intim yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya adalah merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh yang bila diniatkan akan mendatangkan pahala bagi mereka berdua. Dan iblis tidak suka itu. Mereka ingin anak cucu Adam sampai akhir zaman nanti tetap bisa mereka goda dan ganggu. Nah, dengan membaca do'a sebelum jima' ini, maka tertutuplah pintu bagi Syaithon untuk mengganggu anak-anak yang dilahirkan dari orang tua mereka yang membaca doa ini sebelum mereka jima'.



# Apakah yang melafatskan doa sebelum jima' ini suami saja atau istri saja atau kedua-duanya?


Baik, yang melafatskan doa sebelum jima' ini adalah kedua-duanya yakni suami dan istri. Bukan suaminya saja dan bukan pula istrinya saja, karena seorang anak yang lahir itu hukum dasarnya adalah hasil dari kedua orangtuanya. Oleh sebab itu, keduanya yang melafatskan doanya. Dan dalam melafatskannya sebaiknya tidak dilakukan di dalam hati, tapi dilafatskan dengan suara lirih seperti berbisik, dimana terlihat mulut bergerak dalam melafatskannya.



# Kalau boleh tahu lebih detail lagi, waktu yang pas dalam membaca doa sebelum jima ini apakah saat bercumbu, atau saat sebelum suami akan , maaf "sampai" mengeluarkan maninya, atau pas saat sperma suami muncrat, mohon maaf kalau pertanyaanya agak terkesan jorok...


Iya.. iya, gak apa... pertanyaan ini bukanlah hal yang dikategorikan jorok karena hal yang sama juga ditanyakan oleh para shohabiyah karena hal ini adalah ilmu yang wajib diketahui karena hal tersebut ada pada diri kita dan terjadi dalam keseharian kita, seperti sama halnya dengan masalah haid, nifas dan yang lainnya.

 

Mengenai pertanyaan tersebut, sebaiknya waktu yang selamat dalam melafathkan doa sebelum jima' ini adalah sebelum bercumbu sebagai "moqoddimah" atau pemanasan sebelum berhubungan. Atau membacanya di tengah moment saat bercumbu, tidak mengapa. Karena kalau dilafatskan disaat kedua belah pihak sudah berada di puncak kenikmatannya, apalagi sudah hampir-hampir sampai, dikhawatirkan kondisi tersebut membuat kedua belah pihak lupa dan tidak teringat lagi untuk melafatskan doa tersebut.


Demikian dulu dari kami. Semoga kajian kita kali ini bermanfaat. 




Post A Comment
  • Facebook Comment using Facebook
  • Blogger Comment using Blogger
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Punya pertanyaan seputar Islam dan ingin menanyakannya langsung ke ustadz? Silahkan ketik pertanyaannya pada kolom yg disediakan di bawah ini.


Kabar Luar Negeri

[Kabar-Luar-Negeri][threecolumns]

Kabar Dalam Negeri

[Kabar-Dalam-Negeri][list]

Artikel

[Artikel][bleft]

Belajar Islam

[Belajar-Islam][twocolumns]

Kabar Islam

[Kabar-Islam][grids]

Ahlul Kitab

[Ahlul-Kitab][bsummary]